Sightseeing di Kota Palembang #ExposeSumatera Eps.2

Sepanjang 7-8 jam tim #DarmawisataBagimuNegeri menempuh perjalanan dari Lampung menuju Palembang, akhirnya tim sampai juga di Palembang di tengah malam karena baru mulai perjalanan sekitar jam 11 siang. Mungkin karena terlalu capek juga di hari sebelumnya kita explore Lampung Timur dan baru istirahat sekitar jam 12 malam di kediamannya Bupati Lampung Timur.

Perjalanan dari Lampung menuju Palembang cukup menegangkan juga, karena denger-denger ada daerah (lupa nama daerahnya) yang katanya kalo udah mulai gelap rawan begal. Jadi karena terlalu parno (salah satu anggota tim kita ada yang pernah dikejar begal di daerah sana), kita menaikan kecepatan kendaraan agar segera melewati daerah tersebut karena matahari sudah mulai turun dan sudah mulai gelap. Beberapa kali mobil kena lubang yang lumayan dalam dan mobil hampir tertabrak. Tapi alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dan kami sampai dengan selamat.

Selama di Palembang, kami semua tinggal di rumahnya Bang Yayan a.k.a Omndut yang seorang travel blogger juga loh dia udah keliling kemana-mana loh :p Selama tinggal di rumah bang Yayan, keluarganya sangat ramah dan welcome banget. Yang spesial disini sih makanan mamahnya Bang Yayan yang enaknya bukan main! Gak pernah deh kelaperan disini karena di suplai terus hehehe makasih Bang Yayan dan keluarga!

Kami foto bersama dengan Bang Yayan berserta mamanya

Kami foto bersama dengan Bang Yayan berserta mamanya

Karena di hari pertama sampai di Palembang sudah larut malam, kami berencana mengexplore Palembang dari pagi hari keesokan harinya, karena besoknya harus sudah lanjut perjalanan lagi ke Jambi. Untungnya lagi rumah Bang Yayan ini lokasinya tidak jauh dari kota, bahkan ada di tengah kota dan dekat dari Jembatan Ampera dan wisata lainnya.

Pagi harinya kita langsung menuju Alquran-Al-Akbar yang lokasinya di pasantren Al-Akbar. Jalan menuju lokasi ini tidak seperti wisata pada umumnya, karena memang lokasinya ada di jalan kecil dan petunjuk arah juga masih kurang kalo dari tengah kota, tapi jaman now google maps bisa sangat membantu. Saran nih kalo kesini pakai pakaian yang sopan karena disini mayoritas orang datang bepakaian islami dan tertutup, tapi buat yang gak bawa tersedia peminjaman sarung dan kerudung for free. Biaya masuknya kalo gak salah sekitar Rp 5.000 per orang.

Alquran Al-akbar

Alquran Al-akbar

Di dalam hiasan Alquran Al-akbar

Di dalam hiasan Alquran Al-akbar

Yang cukup membuat akang takjub adalah ternyata dari bangunan sebesar ini terdapat 30 juz layaknya Alquran seperti pada aslinya. Selain bisa melihat dari depan, ternyata kita juga bisa masuk kedalam ruangannya yang terbilang cukup besar. Rupanya wisata ini dijadikan juga wisata religi bagi ibu-ibu pengajian, selama akang disana banyak ibu-ibu yang terlihat sengaja datang kesini untuk berkunjung sambil merumpi dengan teman-temannya.

Tidak jauh dari Alquran Al-akbar, kami mengunjungi Pasar 26 Hilir atau katanya sering disebut Kampung Pempek karena sepanjang jalan ini banyak yang menjual berbagai macam pempek. Pempek ini merupakan salah satu makanan wajib yang harus dicoba di Palembang dong, masa gak coba pempek di tempat asalnya he he

Pempek Palembang

Pempek Palembang

Rupanya pempek di Palembang sendiri sangat banyak macamnya gak seperti yang akang tau seperti kapal selam saja, di warung yang kita datangi terdapat lebih dari 10 macam pempek yang terbuat dari ikan gabus asli. Harganya lumayan mahal sekitaran Rp 15.000-20.000 per porsi dan akang rasa rasanya jauh lebih enak di Bandung (mungkin seleranya beda yaks). Saat disini ada kejadian orang berantem dan jadi perhatian semua orang. Kalo dilihat sih suami istri yang bertengkar, tapi sayangnya gak tau apa artinya jadi gelap deh ah, mungkin kalo di Sunda mah “kaditu siah tong balik!” (kesana kamu gausah balik).

Setelah kenyang makan siang kami langsung melanjutkan perjalanan ke daerah Jembatan Ampera. Ternyata selain hanya menikmati Jembatan Ampera dari daratan kita juga bisa menikmati jembatan dari sungai. Kami menyewa kapal untuk menyusuri Sungai Musi dan berkunjung ke beberapa lokasi seperti Pulau Kemaro dan Kampung Al-Munawar.

sewa perahu di jembatan ampera ke pulau kemaro

Jenis perahu yang kita pakai untuk ke Pulau Kemaro dan Kampung Al-Munawar

Selama di kapal kita bisa melihat pemandangan sepanjang Sungai Musi termasuk beberapa kampung yang terdapat di Palembang. Sepanjang sungai ini terdapat beberapa juga pabrik batu bara, sehingga banyak kapal-kapal besar yang melintas, selain itu juga kita bisa melihat beberapa pabrik dari sungai, yang gatau tuh limbahnya dibuang kemana #eh

Setelah kapal berlayar selama 45 menit, kita akhirnya sampai di Pulau Kemaro. Pulau Kemaro ini dulu mempunyai legenda yaitu terdapat putri dari Kerajaan Palembang yang disunting oleh seorang saudagar Tionghoa dan putri itu dibawa ke daratan Tionghoa melewati sungai ini, dan saat di dekat Pulau Kemaro ini terdapat kejadian yang membuat 3 orang yaitu saudagar Tionghoa beserta pengawalnya berikut putri yang bernama Siti Fatimah tersebut loncat kedalam sungai dan tidak pernah muncul lagi.

Pagoda Pulau Kemaro

Pagoda Pulau Kemaro

Dermaga Pulau Kemaro

Dermaga Pulau Kemaro

Karena hubungannya yang kuat dengan Tionghoa, di Pulau Kemaro ini terdapat pagoda yang dapat dibilang tinggi. Suasana saat sampai di Pulau Kemaro ini memang sangat beda, aroma dan dekorasi bangunannya Tionghoa banget. Selain ada bangunan juga, disini terdapat beberapa warung makanan dan minuman, jadi jangan khawatir kelaparan atau kehausan. Tapi sayangnya agak kurang terawat, terlihat dari bangunannya dan beberapa spot yang terlihat sudah tua. Kembali ke dermaga, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Al-Munawar.

Sampai di Kampung Al-Munawar, kita disambut oleh anak-anak yang sedang bermain di sungai. Suka banget sama suasana kaya gini! Untuk masuk ke Kampung Al-Munawar kita dikenakan biaya Rp 3.000/orang kalau tidak salah dan wajib berpakaian sopan. Tapi karena akang hanya memakai celana pendek, akang tidak masuk ke dalam dan hanya menunggu di kapal sambil melihat aktivitas anak-anak kampung sini bermain di sungai dan menikmati sunset dari kapal.

Cerita dari teman-teman yang masuk ke dalam, banyak bocah-bocah asli keturunan Arab yang tinggal disini menyambut kedatangan mereka sambil diajak bermain seperti main bola, atau sekedar berfoto bersama. Kampung Arab ini memang berisi orang-orang asli keturunan Arab yang sudah menetap lama di Palembang, terlihat dari bentuk dan paras muka mereka yang beda dengan orang-orang asli Indonesia. But, still, they are Indonesian also, bukan pribumi atau nonpribumi #eh.

Kampung Al-Munawar

Kampung Al-Munawar

Bocah-bocah Kampung Al-Munawar

Bocah-bocah Kampung Al-Munawar

Tak lama di Kampung Al-munawar karena sudah sore banget akhirnya semua teman kembali ke perahu dan kita kembali ke Jembatan Ampera. Selama perjalanan pulang, suasananya syahdu banget! Di perahu yang sedang berlayar di sungai sambil menikmati sunset yang pada saat hari itu, indah sekali! (padahal beberapa hari kemarin, setiap hari hujan melulu siang malam). Apalagi saat sampai di bawah Jembatan Ampera dengan background sunset yang semakin cantik dan semakin menguning, aaahhhh happy ending banget!

Patung Ikan Belido

Sunset

Saat sampai di daerah dermaga, ada sebuah tugu bertuliskan Bukit Asam, patungnya berbentuk ikan dan katanya bernama Ikan Belido. Biasanya dari patung ikan tersebut biasanya keluar air tapi karena sedang renovasi jadi patung ini tidak mengeluarkan air. Waaah iconic banget yah, kaya di Singapura itu ada singa, kalo di Palembang ada ikan, ntaps!

Patung Ikan Belido

Patung Ikan Belido

Oiya disini juga banyak restoran apung dimana kita bisa nyobain makan di perahu! Tapi tenang, perahunya gak berlayar kok, cuman mengambang dan diikat di pinggir sungai. Di area ini juga banyak banget orang, mungkin merupakan salah satu pusat keramaian di Palembang juga. Banyak orang-ornag pacaran, anak kecil berlari-larian dan anak-anak muda yang nongkrong cari dedek-dedek gemesh.

Nongkrong syantik dulu di area patung ikan belido sambil menikmati suasana malam Palembang, setelahnya kita kembali ke mobil dan kembali ke rumah Bang Yayan untuk beristirahat dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Jambi, yihaaa!

————————
Sumber: irhamfaridh.com
Reporter: Irham Faridh

By |2018-11-14T02:03:48+00:00Januari 8th, 2018|Artikel, Berita|0 Comments

About the Author:

Irham Faridh
Seorang backpacker dari Bandung, Indonesia. Gemar bepergian dan menjelajahi Indonesia. Memiliki impian untuk berkeliling dunia dan memiliki bisnis sendiri.

Leave A Comment