Wisata Candi Anti-Mainstream di Temanggung

Mungkin hanya saya orang Indonesia yang belum pernah mengunjungi Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Boko, dan situs-situs terkenal lainnya. Tapi akhir pekan lalu saya berkesempatan mengikuti wisata candi untuk pertama kalinya di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Tepatnya di kaki gunung Sindoro dan Sumbing dengan ketinggian rata-rata 800meter sampai 1.400meter di atas permukaan laut. Desa penghasil Tembakau itu bernama Candisari. Dari namanya saja sudah menjadi clue bahwa banyak candi tersebar di sana. Itulah asumsi saya waktu berangkat ke sana. Mungkin wisata ini adalah satu-satunya wisata yang mengangkat situs candi sebagai bisnis pariwisata di Temanggung.

Temanggung adalah kota transit bagi para pendaki gunung Sindoro Sumbing yang sudah termasyur sebagai bagian dari rangkaian puncak “Triple S” yaitu Gunung Slamet, Sindoro, dan Sumbing sebagai atap Jawa Tengah. Tapi, saya tidak menceritakan lebih lanjut tentang gunung di tulisan ini. Tetapi ada banyak cerita menarik bagi para pecinta sejarah, arkeologi, dan pengamat kebudayaan yang tersimpan di balik candi-candi yang banyak tersebar di desa-desa seantero Temanggung. Candi-candi ini mewakili cerita yang lebih akrab dengan masa kejayaan dan kehancuran kerajaan Mataram dan Majapahit, di Indonesia.

Prasasti GondoSuli

Prasasti GondoSuli

Buat saya yang punya nol pengetahuan tentang candi pun dapat melihat keistimewaan estetika dan desain candi yang luar biasa unik. Jujur, yang saya bayangkan adalah cara para nenek moyang Indonesia mendesain, memahat, menyatukan, dan menjadikan bangunan candi sebagai pesan pada generasi berikutnya tentang eksistensi peradaban mereka di masa silam yang dulu disebut sebagai Nusantara, jauh dari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Unsur Budha dan Hindu kental pada setiap candi yang ada di daerah Temanggung ini. Ada candi berundak, prasasti dengan tulisan memakai huruf dan bahasa jawa kuna yang hampir punah, candi berbentuk anak sapi sebagai tunggangan Dewa Siva yaitu bernama Anandi, Berupa batu berbentuk kotak berceruk ditengahnya yang bernama Yoni sebagai simbol perempuan, dan batu berbentuk lonjong dengan tinggi sekitar 1meter yang disebut Lingga sebagai simbol laki-laki.

Ritual warga Desa Candisari

Ah, yang tidak terlupakan bagi saya ada bangunan candi berbentuk lingkaran Cakra di situs Gumuk Candi yang berbentuk lingkaran simetris lagi presisi, yang membuat saya jatuh cinta dan terbengong-bengong melihat desainnya. “Gila!,Keren Banget!” itu yang saya katakan ketika pertama kali memasuki areal situs yang dikelilingi oleh hutan bambu tua dengan diameter masing-masing kurang lebih sampai 25cm. Akses untuk sampai ke situs sendiri setelah turun dari mobil transport yakni dengan berjalan kaki di kebun dan sawah milik warga. Dan FYI, baru sebagian kecil bangunan-bangunan candi itu terekspos di atas permukaan tanah, bisa jadi candi itu baru pucuknya saja dan bangunan seluruhnya masih bersemayam di bawah permukaan tanah.

Replika Situs prasasti Kayumwungan, aslinya disimpan di Museum Nasional

Sayangnya pemerintahan setempat belum melihat potensi wisata dari persebaran candi dan situs bersejarah ini. Saya melihat dengan mata kepala sendiri relief batu candi dimanfaatkan oleh warga sebagai batu fondasi rumah dan juga tatakan pot bunga di pekarangan rumah mereka. Sungguh luar biasa, Padahal, candi dapat menjelma menjadi sumber ekonomi rakyat selain bertani sayuran dan tembakau di Temanggung yang berpotensi menjadi daya tarik wisata yang menyuguhkan informasi kekayaan informasi Indonesia di masa lalu. Bukan tidak mungkin suatu saat Temanggung menjadi destinasi baru kota wisata arkeologis setelah Yogyakarta, Dieng, Jambi, Kediri, dan Tretes yang telah sukses mendahuluinya. Sedikit yang bisa saya ceritakan, tetapi terlepas dari semua kekurangan, Saya rasa saya punya hobi baru yakni berwisata sejarah. I’ll definitely comeback and explore more about Candi all around Indonesia.
Sampai jumpa di situs.

Destination: Temanggung Ancient Track Temple

By |2018-11-14T02:27:03+00:00November 24th, 2017|Artikel|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment